Setelah Seminggu, Akhirnya Pemerintah Kirim Helikopter Antar Bantuan ke Amfoang Timur

KABARAKYAT.ID, Kupang — Kabupaten Kupang dan Kota Kupang adalah salah satu wilayah paling terdampak bencana badai siklon Seroja, 4-5 April lalu. Lebih buruk lagi, keterbatasan infrastuktur jalan di Kabupaten Kupang – salah satu yang terburuk di NTT – menyebabkan masyarakat di sejumlah kecamatan baru bisa mendapat bantuan seminggu pascakejadian.

Memang, syukurlah, tidak banyak korban jiwa di Kota Kupang dan Kabupaten Kupang. Berbeda dengan kondisi di Malaka yang  rakyatnya banyak bermukim di wilayah aliran hilir Sungai Benanain; di Lembata yang mengalami longsoran lahar dingin Gunung Ile Lewotolok; atau di Adonara, Flores Timur yang rakyat desanya tertimbun longsor. Tetapi dari sisi luas wilayah terdampak, tidak ada blank spot di dua wilayah ini yang lolos dari kerugian material.

Di Kota Kupang, di setiap kelurahan, puluhan hingga ratusan rumah warga rusak. Ada yang roboh sama sekali, ada yang seluruh atapnya diterbangkan angin. Pohon-pohon tumbang, merusaki jaringan listrik sehingga sepekan pascabencana masih banyak kelurahan yang belum dialiri listrik. Demikian pula cakupan sinyal telepon belum pulih.

Di Kabupaten Kupang, media mengabarkan sejumlah desa mengalami kerusakan sangat parah. Media Era.id memberitakan, sebagian wilayah Desa Tunbaun di Amarasi Barat, ‘tenggelam’. Puji Tuhan semua warga pemukiman selamat sebab sudah mengungsi setelah mendengar kabar peringatan banjir dan longsor dari Badan Meteorologi dan Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Akan tetapi yang paling mencemaskan adalah kondisi di wilayah Amfoang, Kabupaten Kupang. Belum jelas seberapa parah dampak siklon Seroja di wilayah ini sebab jangankan informasi yang cukup valid, bahkan bantuan tanggap darurat pun baru bisa masuk pada 11 April, seminggu setelah kejadian.

Keterbatasan Infrastruktur Jalan Menuju Amfoang.

Amfoang adalah wilayah terjauh dan paling terisolasi di Kabupaten Kupang. Ia terletak di Utara, berbatasan dengan Distrik Oekusi Timor Leste, Kabupaten TTS, dan Kabupaten TTU.

Amfoang adalah wilayah 6 kecamatan yang dulunya merupakan Swapraja dan Kerajaan Amfoang. Jika menempuh jalur Selatan, dari Oelamasi, ibu kota Kabupaten Kupang, melintasi Kecamatan Takari, secara berurutan kecamatan di Amfoang adalah Kecamatan Amfoang Selatan (ibu kotanya di Lelogama), lalu Amfoang Tengah (ibu kota di Fatumonas), kemudian kecamatan Amfoang Barat Daya (ibu kota Manubelon), Amfoang Amfoang Barat Laut (ibu kota Soliu), Amfoang Utara (ibu kota Naikliu), dan paling ujung adalah Amfoang Timur (ibu kota Netemnanu Selatan).

Sementara jika melintasi jalur Utara, melalui Kecamatan Fatuleu Barat, kita bisa langsung ke Amfoang Barat Daya dan seterusnya hingga Amfoang Timur.

Jarak dari Oelamasi ke Lelogama — kecamatan Amfoang terdekat dan paling mendingan kondisi jalannya — sekitar 77 km. Dalam kondisi musim kering, paling cepat perjalanan membutuhkan waktu 2 jam. Jika musim hujan susah diperkirakan sebab selalu terdapat kemungkinan mobil ngadat oleh jalan berlumpur.

Kondisi jalan menuju Kecamatan Amfoang Barat Daya. Foto: Leksi Salukh, Kompasiana.com

Sementara ke Naikliu, jika melewati jalur serupa — jalur Utara putus semenjak Jembatan Termanu di Amfoang Barat Daya rusak diterjang derasnya sungai saat hujan Februari 2021 — di musim kering butuh waktu sekitar 5 jam menggunakan sepeda motor, dan umumnya 7 jam menggunakan bus umum yang jumlahnya hanya 3 unit.

Perjalanan ke Amfoang melewati medan yang berat bukan cuma karena kondisi jalan yang rusak, berbatuan dan berlumpur. Untuk tiba di kecamatan-kecamatan di Utara Amfoang, kita harus melewati sekitar 80an sungai yang hampir seluruhnya belum berjembatan. Beberapa di antaranya, seperti Sungai Tahen, Sitoto, Talmanu, dan Manot memiliki rentang 100 meter, yang saat banjir berkedalaman 1,5 – 2 meter.

Di musim kering, kendaraan bisa melewati sungai-sungai tersebut tanpa risiko. Tetapi di musim hujan, sungai-sungai tersebut hanya bisa dilalui kendaraan double gardan. Itu pun selalu dengan risiko terseret arus sungai. Kendaraan seperti bus dan sepeda motor harus menungu 24 jam agar sungai surut.

Di musim hujan, saat sungai-sungai meluap, orang-orang Amfoang Utara harus mengeluarkan biaya Rp 2 juta sekali perjalanan untuk menyewa kendaraan double gardan jika memiliki urusan mendesak di Oelamasi atau di Kota Kupang. Itu pun angka pada 2016 silam. Entah berapa tarif sewa mobil double gardan pada 2021 ini.

Badai Siklon Seroja mengisolasi sebagian besar Amfoang.

Jika dalam musim hujan normal saja sebagian besar wilayah Amfoang, terutama 4 kecamatan di Utara, terisolasi, maka sudah bisa dibayangkan bagaimana dampak badai siklon Seroja.

Di grup whatsapp dua hari terakhir beredar pesan permintaan bantuan tanggap darurat bencana bagi rakyat di Kecamatan Amfoang Timur. Hari ini sejumlah media lokal daring memberitakan pesan tersebut yang rupanya berasal dari Januario Gonzaga. Ia adalah imam praja Katolik yang bertugas di Paroki Santa Maria Mater Dei di Amfoang Timur.

Semasa masih kuliah filsafat, Januario Gonzaga dikenal sebagai penulis cerpen dan puisi yang aktif. Rupanya saat badai Seroja menyerang Amfoang Utara, Januario dan para pegiat gereja di Amfoang Timur berinisiatif membentuk tim relawan untuk membantu korban.

“Sampai saat ini kami di Amfoang Timur masih sulit berkoordinasi dengan Tanggap Bencana Kabupaten Kupang. … Mohon bantuan jika ada kawan kawan yang sempat membaca postingan ini, menolong menyebarkan kondisi akhir kami untuk bisa ada bantuan pasokan sembako, obat-obatan, kelambu, untuk tolong warga Amfoang Timur dan warga Amfoang yang lainnya,” tulis Januario.

Ia menceritakan, persediaan beras di Amfoang Timur tidak akan mencukupi untuk 1-2 minggu ke depan. Seharusnya rakyat tani di Amfoang akan segera masuk musim panen padi, tetapi hujan badai dan air laut yang naik telah telah merusak hampir sebagian besar sawah di pesisir pantai Oepoli.

Sebelum 12 April, hampir di seluruh Amfoang belum ada posko terpusat tempat masyarakat dan relawan dapat mengakses bantuan pangan dan lain-lain kebutuhan tanggap darurat. Pokso relawan Mater Dei yang Januario dan warga gereja dirikan di Oepoli hanya bersandar pada belanja sembako dari toko-toko kelontongan setempat. Toko-toko itupun telah kehabisan persediaan.

Menurutnya, wilayah Pesisir Amfoang susah diakses sebab jembatan Termanu (jalur utara) rusak sejak hujan Februari. Sementara jalur selatan terputus di Naekake, Noelelo, Mamlasi, dan Taloi, sehingga butuh 3-4 hari dari Kota Kupang untuk bisa masuk ke pesisir Amfoang.

Jalur yang aman dan cukup cepat untuk men-drop bantuan tanggap darurat adalah jalur laut melalui Dermaga Naikliu yang dilanjutkan dengan speedboat ke Amfoang Timur ataukah jalur udara dengan helikopter.

Januario mengisahkan, gerak relawan di Posko Santo Petrus dan Posko Mater Dei baru di seputaran pusat kecamatan Amfoang Timur. Desa Nunuanah, yang terjauh dan terletak diantara sungai besar Sitoto dan Noelfael, sama sekali belum diketahui kondisinya. Demikian pula wilayah di pesisir Amfoang yang Januario duga terdampak sangat parah. Komunikasi sama sekali terputus. Tidak ada orang di wilayah pesisir Amfoang yang bisa dikontak.

Akhirnya, setelah sepekan, Pemprov kirim bantuan via helikopter.

Rupanya permintaan pertolongan yang disebar berantai melalui grup whatsapp dan diberitakan banyak media online akhirnya sampai ke telinga Pemprov.

Pada Minggu, 11 April, Pemrov mendrop bantuan melalui helikopter. Bantuan via helikopter terus belanjut hingga hari ini, Senin, 12 April.

Di laman facebook Januario Gonzaga diperoleh kabar pada Senin, 12 April sudah dua kali helikopter pengantar bantuan mendarat di Amfoang Timur.

Selain melalui udara, Pemprov NTT juga sedang mengupayakan penyaluran bantuan melalui jalur laut. Kadis BPBD Kabupaten Kupang, Jonin Ati mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Sekda Pemprov NTT tentang rencana penyaluran bantuan menggunakan kapal very melalui dermaga Bolok ke dermaga di Naikliu, Amfoang Utara.

Gotong Royong Rakyat, kunci utama tanggap darurat dan pemulihan dari bencana.

Rupanya sejumlah orang sempat menanggapi negatif kabar dan permintaan pertolongan yang Januario tulis. Ia dianggap membesar-besarkan keadaan dan mempersalahkan pemerintah.

Terhadap tanggapan tersebut, Januario menulis di akun facebooknya,

“Sekali lagi dari hati yang paling dalam, postingan saya kemarin tidak bertujuan untuk menyudutkan pihak pemerintah …. Saya bukanlah pahlawan. Saya hanyalah seorang Pastor di pedalaman, saya bertanggung jawab atas nurani saya, atas postingan saya, atas warga yang rumahnya ambruk, tertindis pohon, sawah terendam air dan asin air laut. Itu saja yang menyentuh hati ketika belum ada bantuan untuk mereka. … semua bantuan juga bukan karena hebat saya, tetapi itu semata mata karena uluran tangan para donatur yang tidak kelihatan, yang saya juga tidak pernah berjumpa, tetapi mereka ingin menolong dan dibantu oleh tim relawan, terutama mandat dari Pastor Paroki dan Pastor Stasi.”

Sebenarnya tanggapan negatif tersebut berlebihan. Yang Januario lakukan merupakan hal benar. Ketika bencana, setiap individu dituntut tanggungjawabnya untuk bertindak sesuai kemampuannya. Januario adalah seorang penulis dan rohaniwan. Ia punya akses terhadap penyebaran informasi. Karena itu menyebarkan informasi tentang keterisolasian Amfoang dari aksi tanggap darurat adalah bentuk tanggung jawab yang patut.

“Ketika bencana tiba, setiap orang diminta berkontribusi sesuai kapasitas. Mendata korban dan menyebarluaskan kepada seluas-luasnya pihak untuk mendorong solidaritas adalah salah satu bentuk kontribusi. PRIMA di NTT juga melakukannya, selain menerjunkan kader-kader di dapur-dapur umum, pun membuka posko donasi,” kata Yosep Asafa, pimpinan Partai Rakyat Adil Makmur (PRIMA) di Nusa Tenggara Timur.

Di sejumlah Kabupaten, terutama di Malaka dan Lembata, PRIMA memang turun secara lembaga, menggalang donasi dan menerjunkan orang untuk mendata korban, menyalurkan bantuan, dan membantu di dapur umum. Sementara di kabupaten lain, para pengurus PRIMA berbaur dengan lembaga-lembaga masyarakat lain untuk melakukan hal serupa. (Baca: “Rahasia Kesigapan Partai PRIMA Merespon Bencana di NTT“.)

Memang, sudah sejak 3 April PRMA NTT menyerukan kepada segenap pimpinan dan anggota di Kabupaten dan kecamatan untuk memikirkan dan melakukan sejumlah langkah menolong korban bencana sesuai sumber daya yang dimiliki dan berbasis gotong royong.

Flayer seruan gotong royong menangani bencana oleh PRIMA NTT sejak 3 April 2021.

Gotong royong sebagai salah satu kunci tanggap darurat dan merupakan inti sukses dari kelentingan masyarakat dalam menghadapi bencana pernah disampaikan Ketua Umum PRIMA, Agus Jabo Priyono saat merespon perkiraan akan terjadinya gempa megatrust pada Maret lalu.

“Salah satu kunci penting hidup di negara potensial bencana adalah kelentingan, yaitu kemampuan masyarakat untuk pulih pascabencana. Dan salah satu kunci kelentingan adalah gotong royong,” kata Jabo. (Baca: “Ancaman Megathrust, PRD Sarankan Jokowi Tanggapi Serius“.)

Menurutnya jiwa gotong royong rakyat Indonesia tengah menghadapi tantangan hebat oleh corak ekonomi yang kian liberal kapitalistik. Corak ekonomi itu membentuk corak pergaulan sosial yang individualistis. Penanggulangan bencana perlu pula dilakukan dengan menghidupkan kembali semangat gotong royong.***


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *