Rahasia Kesigapan Partai PRIMA Merespon Bencana di NTT (Bagian 2)

KABARAKYAT.id, Betun — Pada bagian sebelumnya, kita telah membahas faktor pertama yang menyebabkan Partai Rakyat Adil Makmur (PRIMA) bisa sangat sigap membantu korban bencana di NTT, terutama di Kabupaten Malaka dan Lembata. Padahal, sebagai partai yang didirikan oleh rakyat dan kalangan aktivis, tidak ada cukong atau bekas pejabat tinggi Negara yang mendanai aktivitas mereka. Segalanya bersumber dari rakyat dengan segala keterbatasannya.

Baca dulu BAGIAN PERTAMA.


Lantas apa dua faktor lainnya?

Faktor Kedua: percaya kepada kekuatan gotong royong.

Sebagaimana kata Sukarno, jika lima sila Pancasila diperas menjadi tiga sila, dan selanjutnya menjadi satu sila, hasilnya adalah gotong royong. Pancasila adalah gotong royong. Gotong royong dalam kehidupan ekonomi, politik, dan sosial budaya.

Dalam gotong royong, setiap orang berkontribusi sesuai yang mampu diberikan. Demikian pula setiap orang turut menikmati hasil dari jerih payah bersama.

Bukan Pancasila namanya jika –kenyataan saat ini – satu persen penduduk terkaya menguasai hingga separuh total kekayaan nasional. Bukan Pancasila namanya jika kehidupan politik dan kekuasaan memutuskan kebijakan publik dikendalikan oleh golongan satu persen terkaya tersebut, para oligark.

Sebagai partai berideologi Pancasila dan mengusung tagline #MenangkanPancasila, PRIMA menghayati dan menerapkan prinsip gotong royong dalam keseharian aktivitas organisasi.

Gotong royong membuat hal berat jadi ringan. Gotong royong menyebabkan hal mustahil menjadi mungkin.

Para pimpinan PRIMA di NTT, pun di kabupaten-kabupaten menyadari keterbatasan mereka dalam aspek finansial. Tetapi keterbatasan tersebut tidak lantas menghentikan kerja-kerja kemanusiaan. Karena itu PRIMA berkontribusi menolong korban bencana melalui pengerahan tenaga mereka sendiri.

Tak kelah lelah, sejak subuh hingga tengah malam, pimpinan dan anggota PRIMA terjun memantau dan mendata wilayah terdampak. Mereka membantu mengevakuasi korban, mengumpulkan donasi, dan mendistribusikannya. Mereka bekerja di dapur-dapur umum.

“Terjun ke lokasi, bantu apa yang bisa diberikan dan dilakukan,” imbauan ketua DPK PRIMA Malaka, Domi Sirimain di grup whatsapp.

“Selamat malam teman-teman. Setelah tadi kita salurkan bantuan, rencana aksi besok, 6 april 2021 adalah kita fokus untuk jadi relawan di susteran SSPS Betun sebagai pusat logistik dan dapur umum. Tugas kita adalah lakukan apa yang bisa kita buat. Kita kumpul di sekret jam 6.30,” tulis Domi Sirimain pada Senin, sekitar pukul 11.48 malam.

Sudah beberapa hari pimpinan dan anggota PRIMA di Malaka dan Lembata bekerja sejak pagi hingga tengah malam untuk membantu korban di lokasi-lokasi pengungsian. Domi Sirimain sendiri sudah sejak hari minggu mengajak istri dan anaknya untuk mengunjungi posko-posko pengungsian dan terlibat membantu korban di sana. Ia baru tiba kembali di rumahnya pada tengah malam menjelang pergantian hari.

Demikian pula Kanis Soge, Wakil Ketua DPK PRIMA Flores Timur yang terjun langsung ke lokasi bencana di Kabupaten Lembata. Kanis Soge memang berada di Lembata semenjak letusan Gunung Ile Lewotolok pada akhir tahun lalu. Ia bekerja untuk pemulihan korban bencana.

“Teman-teman, mari kita sama-sama antar logistik buat pengungsi di Duliwoho,” pesan Kanis Soge di grup WA PRIMA Lembata pada Senin, 5 April.

“Bung, saya masih di gereja untuk persiapkan bantuan buat di antar besok siang. Tolong kasi saya data titik pengungsi lainnya,” sahut Fery Koban, Ketua DPK Prima Lembata.

Faktor ketiga: muda, orang biasa, dan aktivis.

Faktor ketiga yang membuat para pimpinan, kader, anggota, dan simpatisan PRIMA sangat prima dalam membantu rakyat adalah mereka umumnya orang muda, berusia 20-30an tahun; aktivis pergerakan; dan merupakan orang-orang biasa, berasal dari kalangan rakyat itu sendiri.

Latar belakang demografi dan kelas sosial di atas menyebabkan pengambilan keputusan di PRIMA dapat dilakukan dengan cepat. Demikian pula eksekusi terhadap keputusan bisa sesigap mungkin.

Latar belakang tersebut membuat mereka tidak dibebani penyakit lazim elit-elit partai lama, yaitu sikap canggung terjun kerja kasar, hanya tahu main perintah dari belakang meja, dan mengandalkan uang untuk menggerakkan orang.

Di PRIMA, setiap orang berpartisipasi dengan kesadaran, kerelaan, dan perasaan riang gembira. Apalah artinya lelah jika bisa menolong rakyat, menolong kaum sendiri.

Ya. Demikianlah tiga faktor yang berperan di balik kesigapan PRIMA. Sekalipun parpol baru dan didirikan oleh rakyat sendiri, PRIMA terbukti efektif dalam aksi-aksi kemanusiaan menolong korban bencana, pun dalam merespon kebijakan publik yang menyengsarakan rakyat.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *