Partai Rakyat Adil Makmur (PRIMA) Galang Komunikasi dengan Kaum Sosialis Relijius

KABAR RAKYAT – JAKARTA | Di dunia, ada banyak perspektif politik atau ideologi yang menyatukan sosialisme dengan ajaran agama. Kelompok-kelompok penganut ideologi ini mendudukkan sosialisme — yang dominan bersifat sekuler dan berbasis filsafat Marx – di atas dasar nilai-nilai ajaran agama.

Di Amerika Latin ada teologi pembebasan, berkembang di kalangan gereja Katolik. Di Indonesia, ada sosialisme Islam.  Syarekat Islam boleh dipandang sebagai organisasi politik penganut sosialisme Islam yang paling representatif.

Ideologi Sosialisme Islam Syarekat Islam Indonesia bersumber pada ajaran tokoh bangsa, H.O.S. Tjokroaminoto. Tjokroaminoto selalu mengajarkan kesesuaian antara prinsip-prinsip sosialisme dengan nilai-nilai keislaman. Ajaran-ajaran itu Tjokro sampaikan baik melalui tulisan (seperti artikel “Apakah Sosialisme Itu” dan “Sosialisme Berdasar Islam” atau buku Islam dan Sosialisme) pun melalui kursus politik yang rutin SI selenggarakan.

Orang Indonesia tentu mengenal Syarekat Islam (SI) dari buku-buku sejarah. SI adalah organisasi pergerakan kebangsaan tertua dan berjasa sangat besar terhadap kemerdekaan Indonesia.

Akan tetapi mungkin tidak banyak yang tahu jika Syarekat Islam Indonesia masih eksis hingga kini dan merupakan organisasi dengan keanggotaan yang signifikan. Pertarungan politik dalam dekade terakhir yang diwarnai isu kebangkitan fundamentalisme Islam menyebabkan banyak orang berpikir seolah-olah fundamentalisme adalah perwakilan wajah Islam Indonesia. Keberadaan golongan sosialisme Islam – seperti Syarekat Islam – yang bekerja secara bersahaja membangun inisiatif-inisiatif ekonomi gotong royong di kalangan umat Islam menjadi tidak tercakup dalam pemberitaan media.

Para Rabu, 10 Maret 2021, Agus Jabo Priyono memimpin rombongan Dewan Pimpinan Pusat Partai Rakyat Adil Makmur (PRIMA) bertandang ke Kantor DPP Syarikat Islam Indonesia di Grogol, Jakarta Barat.

Bung Jabo dan rombongan diterima langsung oleh Presiden Partai Syarekat Islam Indonesia (PSII), Chalif Ibrahim, yang juga didampingi jajaran pengurus pusatnya.

Diskusi yang berlangsung penuh kehangatan ini banyak membahas ajaran-ajaran Tjokroaminoto.

“HOS Tjokroaminoto patut menjadi ikon persatuan golongan-golongan progresif dalam perjuangan bersama melawan kapitalisme dan oligarki, dan memenangkan kembali Pancasila sebagai nilai-nilai dasar corak hidup ekonomi, politik, dan sosial budaya bangsa Indonesia,” kata Agus Jabo.

Pandangan Bung Jabo sangat beralasan. Dalam sejarah, Tjokoraminoto adalah guru bagi Soekarno, Kartosoewiryo, Abikoesno, Alimin dan Muso. Para pemuda teman diskusi sekaligus murid Tjokoraminoto ini kelak menjadi perintis aliran-aliran politik progresif di Indonesia: nasionalis, pergerakan Islam, dan komunis, yang masing-masing punya peran penting terhadap kemerdekaan Indonesia.

Presiden PSII mengucapkan terima kasih atas perhatian DPP PRIMA pada gagasan HOS Tjokroaminoto. Menurutnya, pandangan Tjokroaminoto bukan cuma milik PSII melainkan milik bangsa Indonesia. Pandangan sosialisme Islam Tjokroaminoto menegaskan penolakan terhadap sikap individualisme karena Islam menganjurkan tolong-menolong.

Pertemuan diakhiri dengan pernyataan komitmen kedua pihak untuk menjaga silaturahmi kebangsaan. DPP PSII akan melakukan kunjungan balasan ke kantor DPP PRIMA untuk menyatukan banyak gagasan perjuangan bagi kebaikan negeri.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *