Pan Ei Phyu, Remaja ‘Aktivis Tiktok’, Tewas Ditembak Junta Myanmar

Namanya Pan Ei Phyu, yang berarti Bunga Putih yang Lembut. Ia baru berusia 14 tahun. Ia bukan demonstran sebab ibunda terus menghalanginya ikut turun ke jalan. Tetapi pasukan junta militer Myarmar tidak peduli. Peluru mereka menembus tubuh Pan Ei Phyu, tepat di pintu rumahnya.

Junta militer di Myanmar mungkin saja yang terkejam di antara pemerintahan junta militer yang pernah ada di dunia. Demi mempertahankan kekuasaan hasil kudeta terkini, pemerintahan junta tega membantai rakyat Myamar, mulai dari politisi prodemokrasi, demonstran, bahkan remaja dan anak-anak.

Sejak kudeta Februari 2021, militer Myanmar telah membunuh sekitar 700an orang, termasuk 43 anak-anak. Tanggal 27 Maret adalah hari pembantaian paling mematikan. Sekitar 114 orang, termasuk 11 anak-anak tewas. Sebagian besar yang tewas pada 27 Maret adalah para demonstran penentang kudeta militer.

Pan Ei Phyu juga tewas pada 27 Maret. Tetapi ia bukan demonstran. Thida San, ibunda, selalu melarang Pan Ei Phyu terlibat unjuk rasa.

Akan tetapi Pan Ei Phyu adalah remaja yang bertanggung jawab terhadap masa depan negerinya. Meski tidak bisa ikut turun ke jalan, ia menemukan bentuk lain menyatakan protes. Pan menyanyikan lagu-lagu pro-demokrasi dan mengunggah ke akun Tiktok.

Hari itu Pan Ei Phyu baru saja membukakan pintu bagi pengunjuk rasa yang lari menyelamatkan diri dari penembakan militer Myamar. Thida San menceritakan melihat putrinya tiba-tiba terjatuh saat membukakan pintu. Mulanya Thida mengira Pan terpeleset. Thida baru sadar Pan jatuh karena tertembak saat melihat darah di punggung putrinya itu.

Rest in power, Pan Ei Phyu. Go to hell, militerisme.

Sumber: BBC.com (12/4/2021), “Myanmar coup: The people shot dead since the protests began”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *